Bahagianya Menjadi Ulat

Tanggal 16 Januari lalu adalah hari yang ditunggu oleh para mahasiswi Bunda Cekatan, karena akan ada langkah baru yang harus kami pijak untuk mewujudkan mimpi kami, menguasai aktivitas yang kami pilih untuk menekuni sampai menjadi ahli. Bu Septi, guru kami dengan bahagia menyatakan, kami telah menjadi ulat sekarang. Ulat yang berbahagia


bahagia-menjadi-ulat-di-kelas-bunda-cekatan


Seperti ini ucapan beliau:


Alhamdulillah hari ini Anda pecah telur dan menjadi ulat. Perjalanan Anda dimulai dari telur hijau, kemudian telur merah, dan terakhir adalah telur orange. Kita sudah sampai di Parade Mind Map. Maka saya sampaikan, 'Welcome to the jungle of knowledge."

Wow! Rasanya sangat bahagia karena telah berhasil melalui proses metamorfosa yang indah di kelas Bunda Cekatan. Kami melewati 4 kelas telur sebelum menjadi ulat. Menjadi ulat adalah istilah yang bagus untuk menandai setiap perubahan yang kami alami. Dari telur menjadi ulat, yang sigap memakan daun sebagai bekal menjadi kepompong dan kemudian kupu-kupu indah. 


Ini cara belajar dengan cara bahagia. 

Setiap proses memang saya lalui dengan bahagia. Terlalu bahagia dan semangat, malahan. Saya rela begadang pada malam Senin agar bisa mengumpulkan tugas 1 hari sebelum batas pengumpulan. Saya takut jika tak ada energi atau kesempatan jika mengerjakannya hari Selasa. 

Punya bayi di usia saya memang tak mudah. Apalagi setelah ia berusia 11 bulan. Sekarang ini usianya 13 bulan. Alhamdulillah.

Kenapa saya menggunakan Gi sebagai tameng? 
Sebenarnya bukan tameng. Saya belajar untuk merendahkan ekspektasi. Jika sebelumnya saya berkeras bahwa Gi harus ada yang ajak saat saya harus menjadi blogger dan atau penulis, sekarang saya tidak lagi memaksa. Saya menulis saat Gi tidur, jadi saya dapat menulis dengan tenang.


kelas-telur-bunda-cekatan

Merendahkan ekspektasi. 

Belajar berdamai dengan diri sendiri.
Ini cara ampuh agar emosi tidak melonjak saat kepepet DL dalam keadaan bayi menangis karena tidak nyaman, dengan aura kemrungsung di sekitarnya. 

Pekerjaan lain pun demikian. Jika sebelumnya saya masih sering meminta dibantu dengan sedikit paksaan, sekarang saya kerjakan dengan cepat pada malam hari, setelah bayi tidur. Setelah pekerjaan rumah selesai, saya baru menulis sampai mengantuk. Ritme baru ini saya tata sejak saya ikut kelas Bunda Cekatan dan belajar tentang konsep “Tidak berbagi beban.”

Ini adalah manajemen bahagia saya. Cara saya berdamai dengan diri sendiri. 
Saya anggap ini sebagai salah satu prestasi belajar ala saya.


Kelas Telur

Kelas telur, jika teman-teman mengikuti, adalah cara untuk menyeleksi apa yang paling membuat kita memiliki energi belajar dengan baterai bahagia yang abadi. Karena itulah saya memilih aktivitas ngeblog sebagai sel pertama, dan mengubahnya menjadi embrio ulat yang saya impikan. Pilihan ini juga memudahkan saya dalam belajar, karena langsung berdampak pada diri sendiri. Suatu kebetulan, 3 bulan sebelum kelas dimulai, saya sudah membuat rencana membedah blog Cakrawala Susindra ini dengan pengetahuan yang saya miliki. Dengan menggunakan ilmu dari kelas Bunda Cekatan, saya akan bisa melakukan aktivitas ini secara terarah dan punya panduan. Panduan yang ada memang panduan sejagad, karena apapun aktivitas yang dipilih, akan bisa digunakan untuk seleksi dan beraksi.

Jikalau penasaran, silakan membaca postingan kelas telur sesuai tentang interpretasi dan pekerjaan rumah yang saya lakukan.
1.  Telur hijau: Melacak aktivitas suka dan bisa
2. Telur merah: Keterampilan yang saya butuhkan
3. Telur orange: Ilmu yang saya butuhkan
4. Peta belajar
Postingan kali ini adalah aliran rasa atau pernyataan bahagia karena telah merampungkan tugas.

Kiranya saya cukupkan sekian dulu, aliran rasa saya tentang bahagianya menjadi ulat. Saya bahagia, dan saya layak mendapatkannya. Besok saya akan posting apakah "daun yang saya makan dan siap bagikan agar dapat bermanfaat bagi sesama ulat yang membutuhkan atau pembaca lainnya. 

12 Komentar

  1. Yeyeye,, ketemu saudara seideologi nih sm mbak Susi. Semoga kita makin bahagia memilih makanan² ya mbak... Mn yg mau dicokoti hihi... Dan mana yg mau dicuekin hahaha

    Salam ibu profesional

    BalasHapus
  2. Bisa sebahagia itu cara belajarnya, semangatnya luar biasa, apalagi punya baby tetapi tidak melupakan tugas yang ada.

    BalasHapus
  3. Saya pun menurunkan standar "perfectionist" yang biasa saya pakai mba smba Susi.
    Meskipun saya harus bangun tengah malam untuk menulis, saya lakoni daripada saya harus berbagi perhatian antara blog dan dua batirs. Ghazi 8 bulan, Zia 2 tahun 3 bulan.

    Saya pun harus memperhatikan Abang dan dua kakak mereka saat di rumah. Supaya gak tercetus "mama main hape selalu"

    Padahal saya ngeblog. Jadinya lebih suka pegang laptop aja tengah malam

    BalasHapus
  4. Wow luar biasa sekali perjalanannya hingga mencapai 4 telur. Aku juga sedang mengintrospeksi diri kak biar bisa maju kedepan

    BalasHapus
  5. Keren banget sih kelas bunda cekatan, mbak. Kemarin saya baca peta belajar, sekarang udah menjadi ulat ya mbak.

    BalasHapus
  6. Semoga saya bisa seperti mba Susi.
    Tidak berbagi beban, pandai-pandai mengatur waktu.
    Jangan sampai keluarga terabaikan gegara ngeblog atau ngeMedsos..

    BalasHapus
  7. Keren mbak prosesnya. Semoga setelah menjadi ulat bisa memakan daun yang bermanfaat bagi umat ya mbak. Jadi pengen ikutan kelas bunda cekatan.

    BalasHapus
  8. Aq masih dalam proses itu Mba. Semoga bisa menyusul dirimu. Amiiin.

    BalasHapus
  9. Aku dah lama gak punya standar wkwkwk :P
    Entahlah mungkin jadinya kek kurang motivasi.
    Seru banget ikutan kelas2 gini mbak, aku beberapa kali baca blogpost teman aja, kyknya kuncinya di time management yang bagus ya :D

    BalasHapus
  10. Saya bingung sm ceritanya apa hubungannya ulat sm telur hehehehe
    Sy pun baru tahap belajar ngeblog

    BalasHapus
  11. Ini kelas yang kemarin sempet disebut di grup kita ya Mbak? Mbak Susi makin cakeeep. Semangattt

    BalasHapus
  12. Kelas Bunda Ceatan ini sepertinya berisi materi-materi yang bermanfaat banget ya. Saya pun sedang di tahap ini, ada ide mau kerjain ini itu tapi ada bayi mungil yang lagi butuh perhatian lebih. Mungkin saatnya merendahkan ekspektasi biar berdamai dengan diri sendiri

    BalasHapus

Terima kasih sudah berkenan meninggalkan jejak di sini. Mohon tidak memasang iklan atau link hidup di sini. :)