6 Hal yang Harus Disyukuri pada Tahun 2020

Tahun 2020 hampir habis. Kurang 3 bulan lagi. Apakah sudah mulai berkontemplasi tentang capaian di atau perubahan di tahun ini? Saya belum. Masih berasa lama aja. Sampai kemudian tema di OWOP POJOKWB adalah say something positive about 2020. Dan saya pun merangkumnya dalam tulisan berjudul 6 Hal yang harus disyukuri pada tahun 2020. Meski saya memberi angka 6, tapi jumlahnya lebih dari itu.

yang harus disyukuri tshun 2020


Lepas dari curhatan saya kemarin, saya merasa tahun 2020 ini adalah tahun yang terbaik. Tahun yang memberikan dinamika dan pengalaman berharga. Tahun saya berani mengambil keputusan besar. Tahun saya lebih dekat dengan keluarga. Apalagi? Banyak. Saya mulai secara acak saja, dari yang pertama saya ingat, yaitu:

1. Cuaca menjadi lebih bersahabat

2. Semangat berkebun meningkat

3. Kebiasaan pakai masker, handsanitizer dan benda lainnya

4. Sadar akan pentingnya memperhatikan "Isi Piringku"

5. Kelekatan dengan keluarga jadi lebih baik

6. Banyak kursus daring disertai kuota internet murah


Masih ada banyak, lho, misal peluang usaha banyak yang terbuka, digitalisasi produk UKM, bisnis-bisnis baru berbasis hobi, dan lain-lainnya. Yuk kita mulai dari yang pertama.


1. Cuaca menjadi lebih bersahabat

Saya pernah mengutarakan kekhawatiran akan kehabisan air sumur di tahun ini. Tahun lalu kami kesulitan air. Sumur hanya bisa memberikan beberapa ember setiap hari, lalu musim hujan hanya berlangsung kurang dari 3 bulan. Rasanya baru senang ada hujan awal pada bulan Januari, bulan April sudah kembali pancaroba menuju kemarau. 

Berhentinya aktivitas pabrik besar dan banyaknya warga yang mengambil hobi berkebun di rumah membuat cuaca tahun ini lebih nyaman. Lebih dingin. Sesekali ada hujan, dan itu membuat saya bahagia sekali. Kalau hujan, itu artinya ada tambahan cadangan air sumur, dan saya tidak menyiram tanaman selama 1-2 hari. Setiap hari saya butuh ngangsu 4 ember dari sumur di belakang rumah menuju pekarangan depan rumah. 

Alhamdulillah koleksi tanaman sayur saya sudah banyaaaak, pun demikian dengan tanaman bunga. Kadang ada yang datang, bertanya apa kami menjual bunga. Saya persilakan lihat dan boleh beli jika ada yang diminati. Tapi tanaman saya memang lebih banyak yang edible alias bisa dimakan sebagai sayur keluarga.

Nah, cuaca bersahabat gini, sangat nyaman bagi badan. Setuju?

Semoga musim hujan kali ini kembali normal dalam artian panjangnya sesuai porsi.


2. Semangat berkebun meningkat

"Beberapa tanaman di jalan dicuri orang, bahkan bunga bougenville di alun-alun dicangkok orang yang tidak bertanggung jawab...."

Saya tersenyum geli saat membaca berita ini di media lokal, selain prihatin. Geli karena di masa pandemi ini, banyak rumah yang punya rak bunga bertingkat atau hanya sekadar jajaran bunga berpot. Geliat penjual tanaman hias juga meningkat. Memang akan selalu ada orang yang melihat peluang seperti ini dan mengambil jalan pintas. Contohnya mencuri bunga bougenville di tepi jalan yang besar dan indah itu. Harganya memang lumayan, warnanya cantik-cantik, dan jika dipacah jadi anakan, bisa berlipat hasil uang yang didapat. Di marketplace Facebook, anakan bougenville singapura dihargai minimal Rp15.000,-.

Tapi mbokyao jangan dari hasil mencuri, gitu, lho!

Baik, saya cerita yang indah saja. Yang tentang saya sendiri.

Saya jadi petani semi urban dan menetapkan gaya hidup semi foraging. Setidaknya saya yang mengklaim demikian. Diawali dengan membuat rumah-rumahan bermodal uang Rp200.000,-; dengan bambu bekas, pengikat dari ban bekas. Hanya plastiknya yang beli. Rak-rak juga dari kayu sedetan yang dibuang di luar rumah tetangga.

Hasilnya.... Saya jadi banyak meramban alias makan tanaman hasil berkebun. Beberapa saya tulis di artikel berkategori “Bertanam”.

Saya banyak belajar cara menanam sesuatu. Mencoba menapaki jejak sebagai petani dan penjual bunga. Profesi impian, yang membuat saya ingin bermain game Township lagi. Wkwkwk

Yah, saya memang suka berkebun. Ini me time saya. Juga cara saya bertahan hidup. Usaha kami di bidang mebel terhenti karena tak ada pesanan. Usaha craft yaitu Potret Jati juga hanya 1-2 per bulan. Tapi saya tetap memposting di media sosial, agar tetap ada kegiatan. Tak boleh menyerah dengan kondisi sekarang ini. Kalau ingin lihat, silakan buka @susindracraft dan @susindrafurniture ya. Yang furniture masih proses menata, karena baru akuisisi dari manajemen suami. Saya lebih cocok pegang pemasaran dan kontennya.


3. Pakai masker, bawa handsanitizer dan jaga kesehatan

Poin yang satu ini adalah yang paling terasa perubahannya. Dari dulu saya tahu bahwa seharusnya saya pakai masker ke mana-mana. Saya mudah terkena flu. Bahkan perubahan suhu bisa bikin badan saya drop. 3 tahun pertama tinggal di rumah yang saya tempati ini, saya akan sering bersin saat keluar rumah dan melewati jembatan. 

Seperti jembatan penghubung wilayah sejuk dan panas... Tiap akan sampai jembatan itu, saya akan bersin-bersin dan bulu tangan berdiri, serta bergidik kedinginan. Sekarang sudah tidak lagi. Badan saya sudah kuat menahan suhu dan angin dingin. Seperti kondisi malam ini.

Saya tidak siap dilihat orang dengan memakai masker. Padahal saya merasa butuh banget. Sekarang? Yang tidak pakai masker boleh digunjingkan. Wkwkwk. Saya menceritakannya pada artikel Empati di masa pandemi.

Sekarang juga lumayan. Ingat cuci tangan dan pakai handsanitizer saat sampai di suatu lokasi. Dulu? Boro-boro. Mau makan, pakai hand sanitizer dulu. Bahkan Gi juga punya hand sanitizer untuk bayi.


4. Sadar akan pentingnya memperhatikan "Isi Piringku"

4 sehat lima sempurna masih lebih in dibandingkan Isi Piringku. Sebenarnya sama dengan penyempurnaan. 

Isi Piringku adalah salah satu panduan makan sehat yang bisa digunakan sebagai acuan sajian sekali makan. Panduan tersebut meliputi, dalam satu piring makan terdapat lauk-pauk, buah-buahan, sayuran, dan makanan pokok yang bisa dikonsumsi masyarakat yang ingin menjaga berat badan yang sehat. Bisa dikatakan, ini adalah kampanye Kementerian Kesehatan tentang acuan sajian sekali makan yang digaungkan sejak tahun 2017. 

Konsep Isi Piringku adalah satu piring makan yang terdiri dari 50 persen buah dan sayur, dan 50 persen sisanya terdiri dari karbohidrat dan protein. Dengan demikian, masyarakat diharapkan dapat membatasi konsumsi karbohidrat serta lebih banyak mengonsumsi serat dan vitamin, sehingga risiko masalah kesehatan, seperti diabetes dan obesitas pun bisa berkurang.

Selain membatasi porsi makanan, Isi Piringku juga menekankan pentingnya membatasi gula, garam, dan lemak dalam konsumsi sehari-hari. Jumlah takaran gula paling banyak yang bisa dikonsumsi seseorang dalam sehari adalah empat sendok makan, garam satu sendok teh, dan lemak atau penggunaan minyak goreng maksimal lima sendok makan.

Meski kondisi sekarang ini berat, tapi saya lebih menjaga kesehatan diri dan keluarga. Ga boleh ada keluarga yang sakit. J Setidaknya, setengah Isi Piringku itu bisa dicover oleh sayur hasil saya menanam di depan rumah, mereka pun lahap karena hasil sendiri. 

Makan juga lebih saya perhatikan. Sayur jadi makanan wajib. Buah? Kadang saya belikan buah yang murah banget, yaitu pisang narawita/raja uter. Tomat buah pernah sangat murah, hanya 5000 per kg. Diblender dan dijadikan es lilin. Yaaa... yang gitu-gitu deh.


5. Kelekatan keluarga lebih baik

Saya punya anak yang suka bermain di sungai atau sawah. Juga di bantaran sungai untuk mencari buah yang tidak punya pemilik. Tangkap ikan, udang, bakar singkong/ketela/jagung, makan aneka buah dari atas pohon. Masa kecil anak saya cukup lengkap. 

Akan tetapi itu artinya dia lebih banyak di luar. Dia jarang belajar. Hanya jika ada PR. Pulang ke rumah langsung teler, jam 8 sudah tertidur beralas buku. Wkwkwk

Tahun 2020 ini, dengan alasan pandemi, mereka cukup lama tidak sekolah. Berbulan-bulan di rumah saja. Butuh bujukan maut agar ia mau bermain alam bersama teman. Ngendok di rumah. Sesekali saya ajak membuat jajanan. Sesekali kami ngobrol.

Yang jelas sih, kulit anak saya jadi bersih dan jauh lebih baik dari sebelumnya. 

Yang jelas sih, ikatan keluarga lebih kuat. Apalagi kami menghadapi virus yang bisa membuat pembawanya tidak terlihat sakit.

“Nak... makin mendekat pada Allah, ya.”

Sayangnya poin yang ini, saya kok masih belum konsisten, ya. Kahanan dunia terlalu melenakan. Kuota lebih murah, film/drama lebih banyak, pelajaran daring sangat memikat.....


6. Banyak kursus daring saat Kuota internet murah 

Belajar dari rumah (BDR), atau kadang disebut dengan pelajaran jarak jauh (PJJ) punya dinamikanya sendiri. Tapi saya yakin ini bukan tentang kuota internet. Ini tentang kesiapan semua pihak; murid, guru, sekolah, orangtua/wali. 

Tidak sedikit orangtua yang mengeluhkan PJJ. Banyak alasan dipaparkan. Yang paling benar menurut saya adalah kesiapan yang kurang. Para ibu tiba-tiba sering memegang modul belajar anak. Di desa kecil, para ibu yang membantu menjawab soal. Katanya... 

PJJ memang merepotkan para ibu. Saya mengakui itu. Saya lulusan Pendidikan Bahasa Perancis. Dengan bekal passion mengajar – makanya saya ambil jurusan pendidikan – adakalanya saya tetap jadi kucing galak yang belajar mengaum. Kesal rasanya melihat anak berlama-lama atau malah melipir pada jam sekolah. Menghilang pada jam 6 pagi dan pulang jam 10 karena lapar. Ckckck. 

Itu kelakuan anak tengah saya, si bolang yang saya ceritakan tadi. Maret – Juni dia manut di rumah saja. Juli sampai sekarang dia beberapa kali menyelinap keluar untuk bermain dengan temannya. Belum tentu seminggu sekali, kok. Masih sangat wajar karena mungkin dia bosan.

Kuota internet melimpah, jadi bisa banyak belajar secara daring. Surga belajar. Di awal, banyak kursus bonafid yang gratis. Sampai sekarang juga masih banyak. Saya baru sadar kalau belajar pakai Zoom dan Google Meet bisa pakai kuota 10 rupiah dapat 10 GB. Tahu gitu saya lebih rajin ikut kursus. Daripada terperangkap nonton drama secara streaming....

See... banyak sekali hal baik yang saya rasakan di tahun 2020 ini, di tengah semua keterbatasan yang kadang menjengkelkan. Tapi jangan lama jengkelnya, karena banyaaaak hal yang indah terjadi di sekitar kita. Jangan lupa untuk selalu menjaga kesehatan dan jaga pola makan di masa pandemi ala saya. Saya punya rekomendasi hand sanitizer bayi dan voucher diskon 30% di postingan sebelumnya.


20 Komentar

  1. Hmmmm iya ini, air itu sumber penghidupan terbesar di samping yang lainnya

    Baru sadar bahwa aktivitas pabrik besar banyak yang dihentikan, dan banyaknya warga yang mengambil hobi berkebun di rumah membuat cuaca tahun ini lebih nyaman

    BalasHapus
  2. Aku juga lebih rajin ibadah, lebih rajin masak di rumah dan membuka lagi hobi lama yg sempat terabaikan. Lebih santai sm kehidupan alhamdulillah

    BalasHapus
  3. Ada banyak yang positif yang bsia dilakukan di rumah selama pandemi. AKu biasa berbenah, pastinya masak2 tiap hari, makin dekat dengan anak2 dan suami. POkoknya banyak hal2 menyenangkan selama berada di rumah :)

    BalasHapus
  4. Jakarta panas banget jadi pengen mandi terus nih. Tapi itulah hidup setiap momen harus dinikmati dan di syukuri apapun yang terjadi selama 2020

    BalasHapus
  5. Selalu ada hikmah dari setiap kejadian ya. Tinggal kita harus bisa memahami dan memposisikan diri. Dengan bersyukur, apapun akan jadi terasa lebih nyaman untuk dijalankan. Sehat selalu semuanya ya

    BalasHapus
  6. Apapun keadaannya, selalu ada hikmah di balik setiap peristiwa ya, Mbak Susi. Mau sedih, pasti, karena pendapatanku menurun. Mau bersyukur, sangat. Seperti yang Mbak Susi bilang di atas, beberapa pun aku mengalaminya. Paling canggih, tiba-tiba saja aku jadi kreatif mengisi podcast dan channel Youtube. Dulu? Boro-boro kepikiran.

    BalasHapus
  7. yang saya syukuri di tahun 2020?
    Kenal dengan mbak Susi sehingga punya teman nonton drama Cina

    drma Korea mah banyak banget, jarang2 blogger suka drama Cina

    BalasHapus
  8. Tanpa disadari sebenarnya memang perlu disyukuri dan jadi hikmah ya yang terjadi belakangan ini. Tinggal kitanya me-manage dan nggak lupa jaga kesehatan

    BalasHapus
  9. aktivitas berkebun dan bertaman emang lagi booming ya. Di sawah saya jadi sering trima tamu, konsultasi ini itu pada suami, ada yang minta bibit, ada yang minta pupuk, ada juga yang minta hasil panen

    BalasHapus
  10. Yang pasti, selama pandemi, jumlah orang yang peduli akan kebersihan dan kesehatan jadi jauh lebih banyak. Satu pertanda baik yang bisa dijadikan kebiasaan seterusnya.

    BalasHapus
  11. Dampak positif saat Pandemi ini adalah kita semakin menjaga kesehatan, mengatur pola hidup, makin semangat buat berkebun, dan juga meluangkan waktu untuk bersama dengan keluarga

    BalasHapus
  12. Ternyata banyak hikmahnya juga ya mba, selama pandemi ini. Patut bersyukur kita di tahun 2020 ini merupakan cara alam untuk memperbaiki diri dan menyadarkan manusia. Saya yakin, orang-orang akan menjadi lebih baik setelah pandemi ini.

    BalasHapus
  13. Selalu ada hikmah dari setiap kejadian ya mba. Yang penting terus bersikap positif dlm merespon setiap kejadian. Kl di tahun ini aku pun mulai hobi berkebun. Padahal sebelum pandemi males bgt. Selain itu pumya bnyk kesempatan menimbailmu dari fasilitas belajar daring yg saat pandemi justru banyak bgt. Alhamdulillah

    BalasHapus
  14. Bener banget mbak, dulu blogger kalimantan suka mupeng enak banget blogger jkt byk event ya. Skrg justru bisa ikut juga, karena event2 di adakan virtual. Jd punya kesempatan yg sama utk hadir event

    BalasHapus
  15. Aakkk mb Susii, makasii banyak artikelnya bikin hati adeemmm

    Iya nih, PASTI ada hal baik yg kita gapai di 2020 ya.


    Terus bersyukur dan semangaatt

    BalasHapus
  16. Tentang isi piring yang 50% buah dan sayur itu bener banget bikin sehat. Kurangi porsi karbohidrat itu penting bgt.

    BalasHapus
  17. Nomor enam belum dibold tuh Mbak Susi, hehe. Sekaligus aku juga suka nih karena banyak kursus dan webinar gratis yg bs dimanfaatkan. Ah iya sama sy suka memperhatikan isi piring, terutama mengenai nutrisi dan porsi sih, haha

    BalasHapus
  18. Sebagai pengguna internet, karena pandemi jadi banyak banget promo kuota murah. Aku suka bagian ini. Jadi kelebihannya bisa buat belajar hal lain. Ya, 2020 memang nano-nano sih

    BalasHapus
  19. memang banyak hikmah khususnya dari pandemi ini ya
    salah satunya belajar di rumah ini
    harus lebih sabar dengan anak
    trus saya jg ikut kursus2 online seperti motret dari smartphone dan canva

    BalasHapus
  20. Kak Susi..
    Aku mau dipamerin sayurannya doonk...hehehe..kemarin aku berkebun juga, tapi zoonk eeuuii...pada mati.

    Heuheuu~

    BalasHapus

Terima kasih sudah berkenan meninggalkan jejak di sini. Mohon tidak memasang iklan atau link hidup di sini. :)