Pemberdayaan masyarakat di masa pandemi

Internet sudah jadi kebutuhan dasar di masa pandemi. Sulit membayangkan hidup tanpanya. Semua serba terkoneksi padanya. Bahkan untuk pemberdayaan masyarakat pun membutuhkannya. Pemulihan ekonomi semua orang secara langsung atau tidak langsung menggunakan internet. Contoh nyata adalah sobat yang menjadi pengusaha kuliner saat terjadi pandemi. Banyak, kan? Dan sebagiannya dimulai dari konten yang diakses menggunakan koneksi internet. 

pemberdayaan kemanusiaan


Ada kabar gembira yang saya tangkap saat sedang scrolling media sosial. Kemungkinan dua bulan lagi pandemi akan berubah status menjadi endemi. Rasanya bahagia sekali saat membaca hal ini. Rasanya seperti melihat kemerdekaan di depan mata. Tak lagi merasa terkekang dan terkukung.

Merdeka karena internet

Perasaan terkekang dan terkukung memang menjadi cukup dominan selama pandemi ini. Mau ke mana, harus mempertimbangkan faktor diri, keluarga, lingkungan, dan imbal baliknya pada orang-orang yang mungkin berinteraksi. Itulah perasaan terkukung dan terkekang yang saya rasakan pada tahun pertama.

Yah, meskipun tidak banyak mengurangi aktivitas saya sehari-hari. Selama semua bisa dilakukan secara remote dari rumah, maka aktivitas tetap lancar jaya. Intinya, semuanya dilakukan dari dalam tembok persegi yang dinamakan rumah. Beruntunglah, internet menyatukan Indonesia. Menyatukan kita.

Sekarang? Saya malah tidak tertarik untuk ke mana-mana. Kalau bepergian pengen segera sampai rumah kembali. Sudah bulan Juni 2022, dan saya masih tidak tertarik berwisata. Oh iya, sudah tahu kalau bulan Juni itu menjadi Bulan Pancasila?


Hari Kelahiran Pancasila

Mungkin belum banyak yang tahu bahwa pemerintah menetapkan tanggal 1 Juni sebagai Hari Lahir Pancasila. Tanggal istimewa ini juga ditetapkan sebagai hari libur Nasional, melalui Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 24 Tahun 2016. Tahun 2016 itu presidennya siapa, hayooo.... 

Hari kelahiran Pancasila memang harus selalu diingat oleh semua warga Indonesia. Tujuannya agar pemerintah, masyarakat, dan seluruh komponen bangsa (pentahelix) senantiasa mengingat Pancasila sebagai ideologi bangsa. Agar selalu mengingat pondasi atau dasar negara kita. Biasanya, peringatan tidak hanya berupa libur sehari, namun ada banyak agenda yang diadakan dengan tema Kesaktian Pancasila sepanjang bulan Juni. 

Sobat Cakrawala Susindra harus tahu betapa istimewanya pancasila. Saya ceritain dikit ya….

Tahun 1945 ketika kita bersiap-siap merdeka, banyak pendiri bangsa yang memiliki ideologi berbeda. Saat itu dunia seakan terbelah ke kanan dan ke kiri. Ke kanan melihat ke Eropa yang sedemikian "tercerahkan" dengan liberalismenya, atau ke kiri yang sosialis dengan konsep keadilan sosial bagi semua lapisan masyarakat. 

Bisa dibayangkan, mereka, para kaoem moeda yang berasal dari banyak suku bangsa, berpendidikan Barat (Belanda) dan mengecap pendidikan Jepang juga, dengan gempuran budaya Amerika yang sangat massif.... Betapa bergolak semua pengetahuan dan pengalaman itu. Banyak diskusi tentang ideologi bangsa selalu mentah kembali.

Foto orasi beberapa tahun setelah kemerdekaan Indonesia

Tanggal 1 Juni 1945, seorang pemuda dan orator ulung berpidato tanpa teks di tangannya, dengan panjang lebar menjelaskan idenya tentang dasar negara yang akan dimerdekakan bersama. Pidato yang sangat menggebu. Pidato yang saat diketik menjadi 17 lembar itu berisi poin-poin yang pada akhirnya digodok BPUPKI menjadi lima sila dalam Pancasila. Lima sila yang merangkum semua kegelisahan kaoem moeda pendiri bangsa, tanpa harus menghamba ke kanan atau ke kiri. 

Bravo untuk presiden pertama kita dan tim BPUPKI yang bekerja sangat keras pada saat itu. Iya, sangat keras karena merangkum semua kebutuhan bangsa dalam lima sila. Yang paling alot adalah sila pertama, tentu saja.

Oh iya, BPUPKI adalah singkatan dari adan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan. Dan oleh BPUPKI inilah Pancasila dinyatakan secara sah dan resmi menjadi dasar negara Indonesia merdeka pada 18 Agustus 1945. Itu peristiwa 77 tahun yang lalu. Masih relevankah? Tentu saja. Dan kalau dikaitkan dengan topik utama artikel saya kali ini, tetaplah sangat relevan. Pancasila adalah dasar negara, jadi semua kebijakan, semua program, harus selaras dengan pancasila. Sepakat?


Pemberdayaan masyarakat di masa krisis

Kita sekarang ini berada di masa akhir pandemi. Syukur alhamdulillah tragedi ini akan segera terlewati. Kalau kita flashback ke masa awal, tentu banyak kisah menyakitkan. Tapi di masa tengah sampai akhir, banyak kisah bahagia berupa peningkatan ekonomi dan pemerataan ekonomi, kan?

Pemberdayaan masyarakat kecil


Memang benar bahwa pandemi memicu krisis global. Entah yang kesekian, saya tak berani menghitung. Dunia kita ini sering mengalami krisis ini itu sehingga sulit diketahui berapa angkanya. 

Krisis apapun, pasti akan memunculkan sosok-sosok tangguh yang dengan cepat bangkit dari keterpurukan. Malahan tak hanya bangkit untuk diri sendiri, akan tetapi juga membangkitkan orang lain melalui pemberdayaan-pemberdayaan yang memungkinkan untuk dilakukan. Bahkan tak harus dalam satu wilayah. Bisa antar wilayah. Orang Padang bisa memberdayakan orang Jawa dari rumahnya. Orang Sumatera bekerja untuk orang Sulawesi. Tak ada yang tak mungkin, karena ada IndiHome, karena internet menyatukan Indonesia.

Pertanyaannya kemudian, sudahkah pemberdayaan masyarakat itu sesuai dengan Pancasila, terutama pada sila kedua yang berbunyi kemanusiaan yang adil dan beradab? 

Kenapa pula bawa-bawa Pancasila? Lanjut baca ya. Saya mau bahas tentang pemberdayaan dulu.

Saya pinjam sedikit referensi dari Onny S. Prijono dan A. M. W. Pranarka dalam buku "Pemberdayaan: konsep, kebijakan dan implementasi". 

"Pemberdayaan masyarakat adalah upaya menjadikan suasana kemanusiaan yang adil dan beradab menjadi semakin efektif secara struktural, baik dalam kehidupan keluarga, masyarakat, negara, regional, internasional maupun dalam bidang politik, ekonomi, psikologi dan lain-lain.”

Pendapat di atas menjadi sangat menarik jika kita mau kembali ke masa lalu, ketika paradigma pembangunan bergeser dari pertumbuhan sektor (besar) tertentu menjadi pemerataan kekuatan ekonomi kecil. Awal abad ke-21 kata pemberdayaan masyarakat mulai banyak dipakai. Propernas atau program pembangunan nasional (Propenas) pada tahun 2001-2005 membuat banyak program pemberdayaan masyarakat untuk memulihkan kondisi ekonomi dan mengurangi kesenjangan ekonomi yang sangat nyata, bahkan akan menjadi sangat kentara setiap terjadi krisis ekonomi. 

Kelanjutannya:

“Memberdayakan masyarakat mengandung makna mengembangkan, memandirikan, menswadayakan dan memperkuat posisi tawar-menawar masyarakat lapisan bawah, terhadap kekuatan ‘penekan’ di segala bidang dan sektor kehidupan. Pemberdayaan masyarakat harus dipandang sebagai upaya untuk mempercepat dan memperluas upaya penanggulangan kemiskinan melalui koordinasi berbagai kebijakan, program dan kegiatan pembangunan, baik di tingkat pusat maupun daerah sehingga efektivitasnya memiliki signifikansi yang besar terhadap penanggulangan kemiskinan."

Saya pinjam pendapat di atas karena ingin menjelaskan tentang pemberdayaan masyarakat menuju kemanusiaan yang adil dan beradab. Pasal kedua dari Pancasila.


Pemberdayaan masyarakat menuju kemanusiaan yang adil dan beradab

Kalau membahas lima sila, saya tidak yakin kalau bisa mandek dalam 5000 kata. Saya memilih sila kedua saja. Kebetulan saya sedang banyak membaca perihal "standar perempuan beradab di masa kolonial” untuk buku saya. Tapi saya tidak akan memberi spoiler apapun dulu. 

Kita langsung ke sila kedua Pancasila saja. 

Pemberdayaan masyarakat menjadi kunci untuk mewujudkan sila kedua Pancasila yang berbunyi "Kemanusiaan yang adil dan beradab", karena tujuannya adalah pemerataan dalam perbaikan ekonomi setiap warga negara Indonesia. Dan sobat semua pastilah tahu betapa banyak program pemberdayaan masyarakat yang dilakukan oleh semua komponen bangsa.

Iya, semua komponen bangsa. Jadi bukan hanya tugas pemerintah. Bisa dilihat dong, bahkan nyata terlihat selama pandemi ini.

Jujur saja, pandemi ini membuat saya banyak membaca tentang upaya penanggulangan krisis di semua lini, karena saya selalu ingin tahu apa yang bisa saya lakukan sebagai pribadi untuk membantu. Keinginan ini membuka cakrawala saya, bahkan akhirnya saya tahu yang namanya pentahelix. Saya sebagai blogger mengambil peran dalam pentahelix sebagai media melalui blog

Bagan pentahelix


Apa sih Pentahelix itu? Pentahelix atau multipihak adalah kolaborasi yang menggabungkan berbagai lima pihak, yaitu akademisi, pelaku usaha, masyarakat/komunitas, pemerintah, dan media. Konsep pentahelix menggabungkan peran lima unsur besar untuk mengembangkan berbagai inovasi atau pengetahuan. Tentu saja yang memiliki potensi bertransformasi menjadi produk maupun jasa yang bernilai dan bermanfaat bagi masyarakat. 

Penting sekali untuk menemukan pola kemitraan yang melibatkan berbagai pihak dan peran, agar bisa mewujudkan Sustainable Development Goals (SDGs). Tujuan utamanya tentu saja mencapai percepatan pembangunan ekonomi,  ketahanan pangan dan energi, kesejahteraan, dan perbaikan lingkungan hidup.


Pemberdayaan masyarakat dari IndiHome 

Saya yang blogger ini, mengambil peran di sektor media, dengan tujuan untuk memberikan informasi atau solusi yang tepat dan dibutuhkan masyarakat. Sesekali mengambil peran pemberdayaan masyarakat juga dengan ilmu atau hobi yang sudah saya jadikan 4E. Meski skalanya kecil namun bisa memberi manfaat. Bagaimana dengan peran IndiHome yang merupakan badan usaha berskala raksasa? Tentu saja sangat besar.

Pasti tahulah dengan tagline "internet menyatukan Indonesia". Sangat IndiHome. Maksud saya, langsung teringat pada badan usaha milik negara yang kita kenal sebagai Telkom Group itu. Sudah nancep banget dan takkan geser ke yang lainnya.

Sebagai salah satu bentuk pemberdayaan masyarakat, IndiHome memberikan tawaran yang sangat menggiurkan berupa paket internet tanpa batas. Paket termurahnya bisa dipakai untuk 7 perangkat, dan hanya dua ratus ribuan per bulan. Internet menyatukan Indonesia memberi kesempatan bagi semua orang di Indonesia untuk mendapatkan akses internet cepat dan sangat murah.

Kalau mau tahu apa kaitan internet dengan pemberdayaan masyarakat yang adil dan beradab, akan saya beritahu deh. Satu saja dari ribuan kaitan yang bisa ditulis oleh sobat yang datang ke mari. Apa itu? Kesempatan memberdayakan diri sebagai pedagang online! Kesempatan yang sangat terbuka luas dan sudah ada jutaan succes story yang dengan mudah dapat dicari. Atau paling mudah, coba saja tengok tetangga sebelah rumah dengan aktivitas internetnya. 

Usaha rumahan sederhana dipasarkan di media sosial menggunakan internet


Tetangga sebelah rumah saya dengan dana bantuan pemerintah dan kebiasaannya membuat camilan dari video resep di Youtube akhirnya punya kedai yang sangat ramai. Jualannya termasuk beragam karena ada dua puluhan menu kekinian, mulai dari cilor, aneka rasa piscok, seblak, dan masih banyak menu yang menjadi tren selama pandemi ini. Saya menyaksikan sendiri bahwa ia awalnya hanya menerima PO dari WhatsApp dan Facebook dan dimasak di dapur sederhana. Sekarang sudah jadi kedai yang lumayan untuk ukuran pemula di sebuah pedukuhan yang jauh dari kota.

Itulah kaitan antara kesaktian Pancasila dan kesaktian internet, meski jauh tapi ternyata bisa dihubungkan juga. Kira-kira, apa yang akan terjadi jika di dunia ini tak ada internet lagi? Saya tak mau membayangkannya. Berpikir yang indah dan nyata adalah salah satu bentuk pemberdayaan diri yang paling dasar agar kita bisa menjadi manusia tangguh di krisis apapun. 


22 Komentar

  1. Kalau ingat peristiwa bersejarah 1 Juni 1945 kagum sama sosok presiden kita yang pertama itu. Sekarang kita tinggal memajukan dan mengamalkan pancasila dengan baik. Mantep ini pemberdayaan masyaraakat memang sangat penting. Terima kasih informasinya!

    BalasHapus
  2. Pastinya dimasa pandemi tetap bisa produktif kenapa nggak ya kak,mengingat kebutuhan pokok dirasa penting setiap harinya.
    Apalagi dengan kecanggihan internet bisa sekaligus promosikan produk yang dijual dengan mudah.

    BalasHapus
  3. Kesaktian internet yang membawa berkah untuk semua ya
    Makna kesaktian Pancasila yang sesungguhnya
    Gak kebayang kalau masa pandemi tanpa internet, pasti macet deh semua urusan mulai dari pekerjaan sampai pendidikan

    BalasHapus
  4. Thanks ya mom sharing nya bermanfaat banget ❤

    BalasHapus
  5. Karena internet banyak aktivitas kita yang bisa dijalankan dengan lancar. Cara menjadi semakin tidak berarti. Jauh terasa dekat aja dengan adanya internet.

    BalasHapus
  6. Internet ini memang sangat menyatukan Bangsa, karena internet kita bisa tetap terhubung satu sama lain, yang punya usaha (bisnis) juga bisa terbantukan karena adanya internet melalui jualan online.
    gak kebayang deh saat pandemi gini tanpa internet, pasti bakalan terasa asing banget kayak hidup di jaman dulu tanpa saling tahu kabar dari keluarga yang berbeda lokasi, pulau.

    BalasHapus
  7. Setuju bahwa kita memang harus berdikari, unggul, dan tangguh dalam situasi apapun. Kata2 yang sangat mencerminkan sosok pahlawan ya.

    BalasHapus
  8. Konsep pentahelix ini sangat keren. Ya, kita harus bekerja sama ya supaya bisa maju dan mengatasi permasalahan-permasalahan masyarakat. Makasih Bu artikelnya

    BalasHapus
  9. Walaupun terhalang jarak dan sekalipun juga dinding, banyak hal yang bisa menyatukan kita semua ya, salahsatunya melalui internet

    BalasHapus
  10. Sungguh besar jasa internet di masa kini.
    Membawa banyak perubahan besar dan turut memajukan perekonomian, pendidikan dan informasi juga gaya hidup.
    Semoga kita semua bisa membawa perubahan yang baik terhadap lingkungan dengan bantuan internet cepat dan merata.

    BalasHapus
  11. internet banyak membawa perubahan, selama kita bisa memanfaatkannya dengan baik tentu saja akan sangat membantu kehidupan manusia

    BalasHapus
  12. Pemberdayaan ekonomi memang akan memunculkan ketahanan berusaha secara kemandirian finansial

    BalasHapus
  13. Baca tulisan Mba Susi sampai di poin BPUPKI, aku langsung ingat sampul buku sejarah SMA-ku. Wkwkwkwwkwk.

    Pemberdayaan masyarakat perlu dilakukan di berbagai lini kehidupan. Mulai dari keluarga, masyarakat, negara, sampai internasional. Berasa baca materi kuliah ini Mba Sus. Hihihihi. Alhamdulillah internet bikin masyarakat kita, khususnya generasi muda makin pinter ya.

    BalasHapus
  14. Bangsa kita mempunyai potensi yg kuat, segala sumber daya kita nyaris semua ada, tq ulasannya

    BalasHapus
  15. Indonesia sudah 77 tahun, generasi penerusnya harus semakin berdaya ya Mbak. Berkat internet segalanya dimudahkan, bisa berbisnis dari rumah dan jangkauannya mendunia. Sip...

    BalasHapus
  16. Baca artikel ini, semangat jadi membara .
    Semakin keren Indonesia

    BalasHapus
  17. Memaknai kesaktian Pancasila di masa kini memang harus benar-benar menyesuaikan dengan perkembangan zaman ya. Era digital, ya manfaatkan sebaik-baiknya dengan cara digital termasuk dalam pengembangan usaha

    BalasHapus
  18. Memaknai kesaktian Pancasila di era internet ini. Mantap. Makasih banyak ya, Mbak. Semoga sehat dan hidup bermanfaat.

    BalasHapus
  19. Ngomongin Pancasila jadi ingat pelajaran PPKN waktu sekolah dulu. Dan langsung ingat pengibaran bendera saat paskibra, sejarah bung Karno dll. Jiwa patriotisme saya langsung bangkit. Wkwkwk.

    BalasHapus
  20. Apalah artinya sekarang kita hidup tanpa internet ya kak, sekarang semua serba digital termasuk jualan. Kalau gak pake internet ya gak bisa maju usahanya atau kalaupun bisa stagnan atau segitu gitu aja. Aku termasuk user indiHome juga kak dan udah merasakan banyak manfaat dengan menggunakan indiHome. Jaringan yang stabil dan harga yang terjangkau.

    BalasHapus
  21. amsa pandemi tenyata juga membuat banyak orang kreatif yang bisa mencari jalannya lewat internet

    BalasHapus
  22. Dengan internet semua bisa terbantu. Apalagi di masa pandemi kemarin.

    BalasHapus

Terima kasih sudah berkenan meninggalkan jejak di sini. Mohon tidak memasang iklan atau link hidup di sini. :)