Nationale Tentoonstelling van Vrouwenarbeid 1898, Awal Mula Kartini Dikenal Dunia

Selama ini banyak yang menandai cerita tentang kegiatan surat-menyurat Kartini dimulai dengan surat perdananya kepada Stella. Surat tanggal 25 Mei 1899 itu memang sangat powerful. Mengejutkan, ada seorang perempuan Jawa yang nekat menyamakan statusnya dengan perempuan Eropa. 



Sebenarnya kartini dikenal luas pertama kali setahun sebelumnya, yaitu antara Juli-September 1898 di Nationale  Tentoonstelling  van Vrouwenarbeid. Pada saat itu, bahkan Ibu Suri Emma memuji Kartini sebagai "Contoh keberhasilan pendidikan di negara koloni Hindia-Belanda" setelah membaca artikel berjudul "Het Blauverfen" atau "proses pewarnaan dasar biru". 

Wah, kenapa artinya lebih panjang, ya? Hahaha. Percaya atau tidak, kata blauverven ini memusingkan para penerjemah surat Kartini. Contohnya Pak Joost, memberi arti "Dyeing Batik Blue", Mas Amri menerjemahkannya sebagai "Penggunaan Pewarna Biru". 

Ok kita bahas sendiri


Het Blauverfen

Memang tak mudah menerjemahkan sebuah kegiatan tradisional, karena harus memakai kosakata asli, dan itu takkan dipahami pembaca. Dan ya, ada satu kata pendek untuk mengartikan kata "blauverven", yaitu "medel". Istilah khusus dalam pembatikan ini memang sulit dimengerti jika tidak mengorek-orek informasi sesuai dengan konteks yang diusung penulis aslinya.

Medel artinya "memberi warna biru tua pada kain setelah kain selesai dicanting". Proses medel ini dilakukan dengan cara mencelup kain berkali-kali ke pewarna biru sebelum mendapatkan warna yang dikehendaki. Dalam artikel ini Kartini menerangkan caranya secara detail beserta saran, agar warga yang tinggal di tepi sungai mengambil peluang usaha ini. Menurutnya, ini bisnis yang sangat menguntungkan dengan modalnya kecil. Apalagi peminatnya sangat banyak. 

Fyi, saat itu di Jepara dan sekitarnya, tanaman indigo - asal warna biru - sangat banyak, dan Jepara termasuk kota yang dibelah oleh banyak sungai kecil. Usaha pembatikan di Jepara sempat berkembang sampai beberapa tahun kemudian, lalu tiba-tiba senyap dan baru tahun 2009an muncul lagi pengusaha-pengusaha batik Jepara. Ini bisa jadi satu artikel yang sangat menarik, andai saya punya fotonya.

Saat memasuki proses medel mereka harus mengumpulkan cukup banyak dulu sebelum dibawa ke Surakarta untuk di-medel-kan. Selama menanti 2-3 minggu itu mereka juga harus belajar pasrah karena ada kemungkinan hasil men-canting mereka berantakan jika dikerjakan secara asal. Beda jika ada di kota sendiri, mereka akan bisa ikut mengawasi prosesnya. 

Medel - sumber foto krjogja.com


Sebelum perempuan "keluar" dan mendapatkan pendidikan sekolah formal, kegiatan membatik adalah salah satu usaha pendidikan tradisional bagi anak-anak priyayi. Bukan hanya upaya pelestarian tradisi keluarga tapi juga yang tak kalah penting adalah edukasi pada para anak gadis agar selalu sabar dan tawakal. Setahu saya di tiap keluarga (yang bangsawan) memiliki pola unik tertentu yang bisa langsung dikenali. 

Membatik juga sarana perempuan (bangsawan atau tidak), karena merupakan kegiatan yang menyenangkan. Sarana healing, itu benar, tapi bagi keluarga tak berpunya, bisa jadi tambahan uang yang lumayan. Itu sebabnya buruh batik sebenarnya sudah ada sejak lama, namun tergerus oleh kemunculan batik cap di kemudian hari. 

Bicara buruh ini, jadi pas banget ya dengan tema utama artikel ini, yaitu Nationale  Tentoonstelling  van Vrouwenarbeid. Karena arti harfiahnya ya memang pameran buruh perempuan sedunia. Tapi karena inisiatornya sosialita-sosialita yang sangat berdaya dan memperjuangkan pengangkatan derajat perempuan lainnya, makanya disebut pameran feminis terbesar di dunia.

Tulisan berjudul Het Blauverfen ini merupakan bagian dari rangkaian demo pembuatan batik yang dikirim oleh Kartini beserta 30an karya seni lainnya. Kapan-kapan saya bahas tentang peran Kartini di pameran feminis terakbar di dunia pada abad ke-20 itu. Dan ada banyak acara semacam seminar dan reading bersama juga, selain aneka kursus khusus perempuan. Hiburannya? Lengkap, dari Barat sampai Timur.

Aula seminar di pameran


Yang jelas pada saat itu Kartini belum kenal Stella. Kalau Stella, sangat mungkin sudah kenal dengan Kartini dan dua adiknya, serta merasa penasaran padanya. 

Dan perlu diketahui bahwa sebagian besar surat Kartini yang belum pernah dipublikasikan, ditujukan pada para pengunjung pameran tersebut. Jadi masih ada rentetan kronologisnya. bahkan suaminya juga hadir di pameran tersebut. Whaaat? Makin menarik dong ya... Yo wes soal pameran ini bisa ditagih ke saya kalau belum ada di Cakrawala Susindra.

Btw, bingung ga sih, di subtopik pertama di atas saya pakai teknik cerita now and then alias zaman dulu dan keberadaannya di masa sekarang? Moga tidak, ya. Karena salah satu sumber kegagalan menceritakan sejarah di kalangan akademisi (ga banyak kok, biasanya para pemula) adalah menyisakan gap antara yang diceritakan zaman itu dan sekarang. 

Biasanya karena bercerita masa lalu menggunakan kacamata sekarang. Atau bercerita tentang dua orang yang berjarak 20 tahun seakan mereka hidup di zaman yang sama pada usia yang sama. Itu seperti anak kelahiran 2000an yang akan mlongo kalau saya cerita tentang sabak, misalnya. Mereka akan mengira tablet elektronik, bukannya tablet dari batu yang juga digunakan untuk menulis. 

Mungkin kelahiran 1990an awal juga ga pernah lihat sabak, ya.... Saya masih pakai sabak sampai kelas 2 SD.

Banyak banget nih, pemerhati sejarah yang menabrakkan perjuangan Kartini dengan perempuan lain. Mungkin karena ada Hari Kartini.  Padahal hari tersebut dimaksudkan untuk semua pahlaan perempuan yang ada.

Misalnya, membandingkan kepahlawanan Kartini dengan Rasuna Said yang lahir 14 September 1910, misalnya. Jelas beda perjuangan dan bentuk perjuangannya, namun hasilnya sama yaitu Indonesia kita merdeka dan kita semua kaum perempuan dari yang terlahir papa sampai yang berpunya, bisa sekolah, bisa berkarya, dan bisa baca blog Cakrawala Susindra kapan saja. 

Kita tak bisa membandingkan kepahlawanan masing-masing tokoh karena pada dasarnya mereka sama-sama memperjuangkan ketidakadilan di sekelilingnya. Dan tanggung, karena saya menyebut nama, maka saya lanjutkan dikiiit saja.

Kartini lahir 1879, dan Rasuna Said 1910. Bedanya 31 tahun. Jika masih hidup, maka mereka adalah ibu dan anak. Bisa jadi ibu Rasuna Said adalah murid ideologi dari para inisiator pendidikan di kota masing-masing. Hayo siapa yang masih suka tabrak lurus antar tokoh seperti bermain bombom car?


Teralihkan oleh surat perdana pada Stella yang powerful

Surat perdana Kartini kepada Stella mencengangkan. Itu benar. Saya pertama kali baca waktu SD sudah merasa wow. Ketika di usia ibu-ibu saya membaca lagi, dengan referensi yang lebih kaya, lebih terpukau lagi. Saya sampai bayangin Stella terlonjak dari kursi bacanya saat membaca kalimat pertama.

Bukan sesuatu yang lazim di alam Jawa yang terjajah sejak awal tahun 1600an. Bahkan seorang bupati yang menjadi raja kecil di wilayahnya – karena tak ada posisi yang lebih tinggi lagi – harus menunduk-nunduk dan berbicara bahasa jawa paling halus kepada pegawai Belanda di wilayahnya. 

Kalau sobat Cakrawala Susindra mau tahu isi suratnya bisa baca artikel saya berjudul Surat perdana Kartini sangat powerful.

“Saya terbakar oleh kegembiraan dengan datangnya era baru ini dan - ya – saya dapat mengatakan bahwa meskipun saya tidak akan mengalaminya di Hindia – namun pemikiran dan perasaan saya saat ini bukan sebagai bagian dari Hindia hari ini, tapi sepenuhnya membagikan pendapat saya sebagai saudara perempuan putih berpikiran maju di Barat yang jauh. (paragraf kedua)


Bisa dimaklumi jika Kartini langsung membuka surat perdananya dengan seantusias itu. Karena Stella hanya beberapa tahun lebih tua dan suratnya langsung intim seperti kakak adik. Surat perdana Kartini masih saya-anda, namun mulai surat kedua sudah jadi aku-kamu. "Kalau sesekali masih saya-anda, maafkan kesalahan tulisku, Stella," katanya. 

Bisa dianggap sesuatu kelancangan jika ditujukan pada orang Belanda yang masih picik dan merasa dirinya sebagai kaum penjajah. Namun bagi penganut etische, kepercayaan diri Kartini ini sebagai sesuatu yang luar biasa. 

Itu seperti kisah Ismangoen yang sudah menjadi setengah Eropa namun tetap tidak bisa menempati posisi di binnenlandse bestuur. Atau tokoh penting penerjemahan buku-buku pertanian di Bogor tahun 1800an akhir (kebetulan lupa namanya) yang divonis lancang lalu kariernya mandek puluhan tahun gara-gara berbicara dengan bahasa Belanda pada seorang residen Belanda yang picik. 

Penasaran dengan mereka, baca buku terbarunya Mas Amri, deh, yang berjudul "Kartini: Surat-Surat Lengkap dan Berbagai Catatan 1898-1904, menerjemahkan bukunya Pak Joost Cote. Pssst... sebenarnya saya dan Mas Daniel sedang menerjemahkan itu dan membuatnya jadi 6 buku kecil atas izin Pak Joost dan Monash, tapi ga tahu masih layak diteruskan atau tidak. Menurut kami 6 buku 200-300 lembar lebih menarik pembaca daripada buku setebal 900an halaman. 

Lanjuttt....


Nationale  Tentoonstelling  van Vrouwenarbeid 1898

Sejak beberapa tahun sebelum 1988, sekelompok orang di Negara Kincir Angin sana sangat sibuk. Mereka menyiapkan konsep pameran feminis perdana dan terakbar di dunia. Sebuah gedung yang megah dan besar dibangun secara khusus untuk itu.



Semua diawali pada musim panas tahun 1895, ketika Catharina Agatha Worp-Roland Holst, Cato Pekelharing-Doijer, dan Dientje Dull bertemu. Mereka ingin membuat sebuah pameran akbar untuk menyambut pelantikan Ratu Wilhelmina. 

Ide ini disambut dengan antusias oleh Hendrina Scholten-Commelin, Bertha Levysohn Norman dan C├ęcile Goekoop-de Jong van Beek en Donk, dan menarik lebih banyak lagi investor.

Perempuan-perempuan berpengaruh ini menambah jumlah pendukung rencana pameran. Menurut mereka, sudah saatnya melantangkan suara pekerja perempuan yang tergilas oleh kapitalis dan patriarki. Eh, nggak juga sih, karena pameran itu juga kesempatan kapitalis kakap memperkenalkan mesin-mesin pabrik seukuran raksasa untuk zamannya. Saya masih pusing baca buku tentang pameran ini karena hanya tersedia dalam bahasa Inggris dan Belanda, dan bukan artikel yang enak dibaca pula. 

Yang jelas, Momen pelantikan sang ratu muda diambil agar semakin banyak yang bergabung dalam acara, baik yang aktif maupun pengunjungnya. Ratu Emma yang saat itu berkuasa mendukung rencana ini. 

26 Juni 1896, Vereeniging Nationale Tentoonstelling van Vrouwenarbeid  atau Yayasan Pameran Nasional Asosiasi Buruh perempuan didirikan. Sebuah gedung dibangun di Den Haag, yaitu di [jalan] Scheveningseweg, atas inisiatif Adriaan Goekoop. Butuh waktu satu tahun setengah untuk membangunnya, dengan dibidani oleh arsitek terkenal bernama J.J. van Nieukerken; ia seorang laki-laki karena saat itu belum ada arsitek perempuan. 

Proses menghias gedung tersebut dibantu oleh sosok-sosok perempuan yang sudah berada di puncak. Misalnya Cornelia Pompe (wapres ubriekcommissie Bloemenvak) dan  Jacoba Hingst (pendiri Sekolah Hortikultura Pertama) sebagai pendesain taman untuk pameran. Persiapan pameran buruh perempuan ini menjadi pemantik semangat bagi para perempuan agar segera menyusul laki-laki dalam kiprahnya di dunia, sehingga kemudian menjadi salah satu batu loncatan yang tinggi dalam sejarah feminis. Makanya sering disebut sebagai pameran feminis terakbar di dunia (kelihatannya sampai sekarang belum terpecahkan rekornya).

Area taman, restoran, dan disebelah kirinya (tak terlihat) gedung gamelan yang menghibur sepanjang hari dengan beberapa lakon yang disederhanakan. Sosrokartono membuatkan booklet tentang lakon tersebut.

Setelah persiapan selama 2 tahun, maka tibalah saatnya. Pameran berlangsung dalam waktu yang lama, yaitu 9 Juli sampai 21 September 1898. Pengunjungnya diperkirakan sebanyak 90 ribu orang dan diliput berbagai media massa. Seperti tren pameran dunia pada masa itu, negara koloni juga harus ikut menyumbangkan karya terbaik di daerahnya. 

Sebuah area halaman yang sangat luas ditata sedemikian rupa sehingga bisa memuat seluruh "persembahan" bupati-bupati dari Hindia. Juga ada pertunjukan tari dari keraton di Jawa beserta gamelannya. Di bagian dalam gedung untuk pameran dari negara Belanda dan Eropa pada umumnya, termasuk pameran mesin-mesin pabrik yang terbaru.

Di area pameran untuk kaum bumiputra (Indonesia), ada 4 anjungan yang sangat menarik perhatian, yaitu anjungan dari 2 keraton vorstenlanden (saya lupa menggali info Surakarta dan Yogyakarta mengirim apa), dan dua yang lainnya dari Aceh dan Japara (sekarang Jepara!). 

Pasti tahulah kalau saat itu Aceh masih gigih mempertahankan diri dari penjajahan sehingga dalam persepsi mereka merupakan daerah liar yang kaya raya. Kalau Japara? Karena jika semua anjungan memakai nama "Bupati dari X", di "Anjungan Japara" tertulis jelas nama R.A. Kartini, R.A. Roekmini, dan R.A. Kardinah. 

Ahai! Tiga gadis dari Jepara ini, benar-benar tahu apa yang dibutuhkan untuk mengmabil hati puluhan ribu pendukung feminis yang hadir ke pameran itu, ya. 

Fotonya? Ntar! Nunggu bukunya terbit. Hihihi.


Contoh keberhasilan pendidikan di Hindia-Belanda

Selain menarik karena ada nama perempuan Jawa yang belum menikah dalam anjungan pameran, Anjungan Japara juga sangat menarik karena ada 30an karya yang dipamerkan oleh mereka juga amat sangat istimewa. Bahannya istimewa, desainnya istimewa, buatannya juga istimewa, karena mengaplikasikan karya seni Jawa dalam perlengkapan rumah tangga yang menjadi tren pada saat itu. 

Saat itu penggabungan antara seni Jawa dan barat-kontemporer masih jarang dilakukan, dan secara malu-malu dilakukan. Benda penjajah mana layak dihiasai karya seni khas orang bodoh yang terjajah ratusan tahun.... mungkin gitu ya, meski sebagiannya adalah rasa pesimis dari kaum yang terjajah sendiri karena pada saat itu semuanya serba diskriminatif. Kepala stasiun saja minta dihormati ala ndoro gung dan minta disembah dan dicium kakinya.... Ini contoh deskriminasi yang terjadi sih...., dan takkan dilakukan oleh para pengusung dan pendukung Politik Etis yang pada saat itu sedang giat menyuarakan kesejahteraan rakyat koloni.

Di Anjungan Japara ada satu set perlengkapan membatik, disertai contoh hasil pengerjaan dalam setiap langkah pembatikan serta penjelasannya. Ada satu penjelasan yang panjang dan disebut sebagai "Manuskrip Jepara" berjudul Het Blauverfen

Ternyata pihak Kerajaan Belanda juga tertarik dengan Anjungan Japara dan Ibu Suri berkenan melakukan kunjungan pribadi ke sana. Artikel tersebut dibacakan oleh Mrs. Lucardie dan dipuji oleh ibundanya Ratu Wilhelmina karena ditulis dalam bahasa Belanda yang sangat baik. 

Oleh karena Kartini dan dua adiknya adalah lulusan ELS atau Sekolah Dasar Eropa di kotanya yang kecil terpencil, maka mereka menjadi contoh keberhasilan pendidikan di negeri koloni Hindia Belanda. Maklum, Ibu Suri Emma dan anaknya yang baru dilantik, yaitu Ratu Wilhelmina, memang masih menggodok konsep tentang Etische atau balas budi, yang akhirnya jadi kebijakan pertama sang ratu.

Sungguh kebetulan ada dua tokoh ternama yang sudah lama merencanakan penerbitan buku ensiklopedia batik, yaitu G. P. Rouffaer en H. H. Juynboll. Dengan bantuan sang kakak (Sosrokartono) yang juga terlibat dalam pameran tersebut, maka persembahan batik kartini menjadi bahan penting dalam pembuatan buku ensiklopedia batik yang direncanakan. Judulnya De batik-kunst in Nederlandsch-Indië en haar geschiedenis: op grond van materiaal aanweizig in 's Rijks Ethnographisch Museum en andere openbare en particuliere verzamelingen in Nederland. Ya Allah panjang bener judulnya. 

Buku ini beda dengan seri buku kriya batik yang dibuat oleh Jasper dan Pringadie pada tahun 1916, ya....

Sumber foto dari Wikipedia


Dan sebagai karya etnografi dari seorang yang telah meninggal (karena bukunya terbit tahun 1914), maka karya batik, foto dan penjelasan tentang kaluarga "seniman" dari Jepara menjadi bagian penting. Jadi ada foto-foto Kartini dan keluarga Bupati Sosroningrat juga di sana. Silakan cari dengan kata kunci judul buku untuk dapat buku digitalnya. 

Dalam kata pengantar penulis, Rouffaer and Juynboll menulis: 

Membatik terutama merupakan aktivitas perempuan Jawa. Hampir tidak ada yang lebih relevan dan signifikan daripada seorang perempuan Jawa yang mempraktekkan seni membatik sambil memberikan penjelasannya sendiri tentang teknik-teknik yang  digunakan. Kami memanfaatkan hak istimewa yang luar biasa. Dalam hal yang disebutkan di atas, pada saat Nationale Tentoonstelling van Vrouwenarbeid tahun '98 berlangsung, tiga putri Bupati Jepara – yang bergelar bangsawan Jawa dan bergelar Raden Mas Adipati Aria Sasraningrat – turut menyumbang. Selain beberapa contoh karya yang mereka buat sendiri, ada satu set perlengkapan membatik disertai dengan berbagai contoh kain sesuai dengan berbagai tahap pengerjaannya. Dan, yang paling berharga dari semuanya, selanjutnya, adalah penjelasan dan deskripsi dari seluruh proses yang ditulis dalam bahasa Belanda yang sangat baik, yang mereka tulis sendiri.  Dengan tahapan membuat batik yang mereka buat sendiri, Raden Ajeng Kartini, Raden Ajeng Roekmini dan Raden Ajeng Kardinah – nama-nama putri bupati – memberikan kontribusi yang kebetulan  menjadi informasi yang dicari para pejabat kolonial muda di Jawa  yang berminat dengan penjelasan tentang batik. Betapapun  besarnya upaya para [penulis] laki-laki dalam menjelaskan detail pengerjaan batik, takkan bisa menandingin mereka yang berpengalaman dan mengerjakan sendiri. 

 

Dari pameran Nationale  Tentoonstelling  van Vrouwenarbeid 1898, Kartini tidak hanya jadi contoh keberhasilan pendidikan dan menyumbang dalam buku ensklopedia batik berbahasa asing tertua, lho. Sederet nama yang berkirim surat padanya adalah sosok-sosok penting yang terlibat dalam pameran tersebut. Namun memang selama ini hanya 10 nama yang sering disebut. Dan di antara sederet nama, sudah jelas bahwa Stella pasti menjadi pengunjung pameran karena ia memiliki komitmen menjadi tokoh feminis. 

Nama Nellie van Kol dan suaminya disebut-sebut dalam pemberitaan pameran, bahkan menulis tentang pagelaran gamelan di sana. 

Restoran di gedung pameran - ada yang mau makan rijsttafel?



Ada dugaan kuat bahwa Abendanon dan Snouck Hurgronje datang ke sana dan tiga putri Bupati Sosroningrat tersebut masuk dalam daftar yang harus dikunjungi. Ini terlihat dari cerita Kartini, bahwa sebelum kedatangan Abendanon ke Jepara, Direktur Pengajaran tersebut berencana menemui "calon kepala asrama sekolah perempuan dari Jepara" yang sedang ia rencanakan. 

Makanya saat kunjungan balasan keluarga Sosroningrat ke rumah mereka di Kebon Sirih, Abendanon juga mengundang tokoh-tokoh penganjur sekolah perempuan seperti Dr Adriani, Nona van Loon dan beberapa nama yang kadang muncul di surat dalam bentuk inisial. 

Kalau suka baca buku tebal, bisa baca buku terjemahan surat Kartini terbaru, dan akan muncul banyak nama orang yang dia balas suratnya. Beberapa adalah tokoh-tokoh feminis terkenal dan beberapa di antaranya memesan mebel dari Kartini, dan beberapa tawaran mengisi kolom di media cetak berdatangan di meja kerja Bupati Jepara, termasuk dari Direktur OSVIA Probolinggo.

Jadi.... salah besar kalau mengira Stella adalah sahabat pena pertama Kartini, karena Stella mengirim surat ke Jepara setelah mendapatkannya dari redaktur majalah De Hollandsche Lellie, yaitu Sophie van Wermeskerken-Junius. Mungkin sobat pecinta sejarah feminis mengenalnya dengan nama pena Johanna van Woude, yaitu penulis novel best-seller berjudul "Een Hollandsche Binnehuisje "(1888). Kartini sebagai pelanggan majalah De Hollandsche Lellie dan pembaca novel Een Hollandsche Binnehuisje mengirim surat kepadanya, sehingga sang novelis sekaligus redaktris tersebut berinisiatif mengabulkan permintaan Kartini yang mengharap punya teman-teman yang sudi kiranya ikut berjuang mengangkat perempuan dari kehidupannya yang tak jauh dari dapur, sumur, kasur, agar bisa mendapatkan kesempatan yang sama untuk menikmati pendidikan.

Karena berhubungan dengan merekalah, Kartini disebut feminis. Kalau menurut saya, suratnya itu untuk menguji sampai mana komitmen para perempuan Eropa totok tersebut perduli pada nasib perempuan Jawa, apakah seperti nyonya-nyonya Eropa dan Indo di Jawa yang merasa terganggu saat Kartini dan dua adiknya pada tahun 1897-1898 meminta donasi bagi pendidikan perempuan. "Mereka berwajah kecut tapi tetap mau membuka kantong uangnya untuk kami," katanya pada Stella pada tahun 1899, entah dengan perasaan yang seperti apa.

Jadi, salah besar kalau mengira perjuangan Kartini dimulai dari kenal mereka-mereka yang suratnya dibukukan, dan kita perlu angkat topi untuk feminis perempuan yang jarang disebut sebagai orang yang berjasa besar, yaitu Marie Ovink-Soer, karena dialah ibu Eropa yang memberinya kepercayaan diri untuk bergabung dengan perjuangan mengangkat harkat dan martabat perempuan. Agar kedudukan istri di masa kolonial menjadi lebih baik.

Oke, dongeng kali ini tak seberapa panjang, cuma 2000an kata. Terima kasih sudah membaca dengan antusias!

Artikel ini jadi semacam rangkaian peringatan haul R.A. Kartini di blog pribadi, dan akan ada 2 atau beberapa cerita menarik nantinya. InsyaAllah. 

Bisa lanjut baca artikel sejarah lainnya atau khusus ke sejarah Kartini di blog ini.

10 Komentar

  1. Kembali menyimak kisah Kartini yang bukan sekadar sejarah. Tulisannya lengkap dan detail. Terima kasih sudah mengingatkan kembali kisahh tentang sosok Kartini.

    BalasHapus
  2. Aku sering banget menemukan sejarah di tulisan mba Susi sampai penasaran pengen plesir ke Jepara, kota tempat ibu Kartini dilahirkan. Oiya soal membatik aku jg pernah dengar sih kalo cuma anak bangsawan yg boleh belajar

    BalasHapus
  3. Aku baca artikelnya berasa baca buku sejarah lengkap banget ceritanya baru tahu nih tentang sejarah kartini jadi pngen tahu lebih bnyak dengan datang ke kota Jepara tmpat lahirnya ibu kartini

    BalasHapus
  4. Lengkap banget penjelasannya mba. Alhamdulillah suka bacanya jd makin nambah wawasanku deh

    BalasHapus
  5. Saya setuju nih tentang kita yang gak boleh membandingkan perjuangan/andil antara pahlawan yang satu dengan yang lainnya. Karena jelas tahun kejadian dan apa yang mereka hadapi/kondisinya pun berbeda, namun tentu saja tujuannya sama. Demi Indonesia

    BalasHapus
  6. tulisannya sungguh menarik sekali, banyak hal baru yang bisa didapatkan atas ulasannya, spesial untuk kartini

    BalasHapus
  7. Luar biasa sih kalau bahas Kartini, aku baru tahu soal ini agak belibet diucapkannya tapi keren jadi penasaran ke sana dan belajar batik. Wanita tangguh yang jadi idola hampir semua kaum wanita ini memang punya banyak sisi luar biasa yang belum aku ketahui. Terima kasih informasinya!

    BalasHapus
  8. MashaAllah~
    Aku salut dengan investigasi sejarah lengkap kak Susi mengenai sosok Ibu RA. Kartini yang masyur.
    Dan aku sempat ingat dengan surat-surat Ibu Kartini terhadap sahabat penanya yang pernah kak Susi tuliskan juga.

    Rasanya di zaman itu, tulisan Ibu Kartini memang sungguh mengejutkan ya..
    Kekayaan kosa kata dan cara berbicaranya yang feminis, membuat beliau bisa saja dikatakan sebagai "pemberontak" bagi kaum pria (Jawa) yang kala itu kedudukannya lebih tinggi.

    Sukaa banget kisah yang selalu dikupas kak Susi mengenai sosok wanita yang memperjuangkan hak-hak wanita seperti Ibu RA. Kartini ini.

    BalasHapus
  9. Keren nih Bu Kartini, gara-gara senang menulis, bisa terkenal sedunia ya. Memang kalau wanita itu harus berdaya dan berilmu, demi bisa mendidik anaknya kelak

    BalasHapus
  10. Kalau sudah membicarakan Kartini maka akan banyak yang terurai. Sehingga wajar bila tulisan ini sampai ribuan kata. Lanjut lagi mbak kisahnya

    BalasHapus

Terima kasih sudah berkenan meninggalkan jejak di sini. Mohon tidak memasang iklan atau link hidup di sini. :)