Renungan di Hari Ibu 2023 ala Susindra

Selamat Hari Ibu! Apakah sobat Susindra merayakan hari ini? Atau malah lupa kalau tanggal 22 Desember adalah Hari Ibu? Yang mana pun, terima kasih ya sudah datang ke artikel ini dan membaca Renungan di Hari Ibu 2023 ala Susindra.

Renungan di Hari Ibu 2023 ala Susindra


Saya nyaris lupa kalau sekarang tanggal 22. Kalau bukan karena membuat draft artikel untuk besok, mungkin bakalan terlewat, deh. Harap dimaklumi, ibu rumah tangga memang tak selalu mengecek tanggal, terutama jika musim liburan gini. Anak-anak di rumah dan sibuk bikin camilan.


Tapi untung saja sih masih ada waktu. Saat ini pukul 16.23 WIB dan saya mulai menulis. Kebetulan rumah masih termasuk bersih dan anak kicik sudah aman sama bapaknya. Saya mau menulis tentang patriarki saja deh sebagai bagian dari peringatan hari ini. Nantinya biar berkembang sendiri saat menulis.

Kenapa saya memilih tema yang satu ini karena jujur saja masih banyak yang bias dengan patriarki yang sudah jadi ideologi umum di masyarakat. Terutama masyarakat yang masih belum bagus literasinya tentang kesetaraan hak sebagai manusia. 


Patriarki, kuasa laki-laki, dan dewi-tolol

Pandangan konservatif dan tradisional yang menempatkan kaum perempuan sebagai orang kedua masih banyak dianut. Perempuan diberi peran domestiknya, berdandan, memasak, beranak (macak, masak, manak). Kuasa laki-laki adalah absolut dan tak ada hak bagi perempuan untuk mengusiknya.

Penganut pandangan ini bukan hanya kaum laki-laki tapi juga kaum perempuan. Dalam kondisi ini, mereka seperti makin menemukan taring baru saat melihat istri yang punya pendidikan sampai sarjana memutuskan menjadi ibu rumah tangga. Maka omongan nyinyir menjadi makin sumbang. 

penjelasan dewi tolol soekarno


Saya masih sering merasa risih saat melihat kaum perempuan yang termarginalkan atau malah memarjinalkan dirinya sendiri. Apalagi jika sudah menyatakan perempuan sebagai kaum lemah yang perlu dilindungi, dijaga, dan dijauhkan pandangannya dari dunia luar. 

Kalau zaman dulu sebelum ada gerakan perempuan, upaya perlindungan perempuan adalah merumahkan mereka dan menggunjingkannya jika keluar rumah tanpa suami. Setelah suara-suara lantang keluar dari para perempuan terpelajar sendiri, maka upaya ini - yang oleh peneliti Kartini menyebutnya sebagai pingitan - menjadi sedikit berkurang. 

Dari segi jumlah perempuan yang "menjadi modern" mungkin sudah bertambah banyak, namun jika diprosentase masih sangat kecil. Bahkan para penganjur kebangkitan juga masih banyak yang menyembunyikan istrinya di rumah. Saat ada tamu laki-laki mereka tak boleh keluar. Apalah arti pergerakan dan nasionalisme tersebut jika tak ada peran perempuan? Seperti seekor burung yang mencoba terbang dengan hanya satu sayap. 

Presiden Soekarno saat itu - dalam buku berjudul Sarinah - menyebut perempuan yang masih "dirumahkan" tersebut sebagai "Dewi Tolol". Asumsinya adalah perempuan ini merasa tersanjung karena dianggap perhiasan yang sangat berharga seperti dewi, namun tak tahu kalau dirinya telah kehilangan haknya untuk melihat dunia dan berkarya, serta menjadi penyangga peradaban modern yang sudah di depan mata. Ketika kebangkitan dan kesetaraan berdengung di mana-mana mereka masih terpenjara dalam kotak persegi bernama rumah. 

Saat kebangkitan dan kesetaraan sudah nyaring berkumandang, konggres perempuan pertama menjadi memontum yang sangat dahsyat. Pada konggres perempuan kedua itulah disepakati bahwa tanggal 22 Desember adalah Hari Ibu. Sebuah kemenangan besar bagi perempuan, namun fun fact saja, bahwa di keputusan konggres pun nama perempuan mereka tersembunyi dalam bentuk nama suami. Silakan cari nama-nama mereka, ya. Boleh juga baca Catatan Sejarah Perempuan di Dunia Patriarki. 


Sejarah perempuan sebelum kemerdekaan

Sebenarnya menarik sekali jika sekali lagi mengulas tentang sejarah perempuan secara lengkap. Saya tergoda untuk melakukannya. Namun saya sudah cukup banyak menuliskannya. Misalnya:

1. Catatan Sejarah Perempuan di Dunia Patriarki

2. Mematahkan Bias Gender dari Rumah

3. Kedudukan Istri di Masa Kolonial

4. Pernikahan Bangsawan Eropa 1800an (review film)

5. Sejarah perempuan Cina peranakan (review drama)

6. Poligami pada Masa Kolonial

7. Kehidupan Garwo Ampil/Selir (studi kasus M.A. Ngasirah)


Masih banyak lagi, dan yang tak ada link hidup berarti saya ulas di artikel ini dan link-nya  berwarna merah.



Kalau bicara sejarah gerakan perempuan tentu tak jauh dari awal mulanya yaitu keterdidikan perempuan. Sejak zaman dahulu kala, hanya perempuan terdidiklah yang bisa mengubah dunianya sendiri. Jika mau merunut dari abad ke-7 juga bisa.

Pada abad ke-7 tentu saja ada Ratu Sima. Abad selanjutnya, kita mengenal Sanggramawijaya Harmaprasodotunggadewi sebagai tangan kanan Airlangga. Lalu ada Wangsa Isyana yang melahirkan keturunan pendiri Kerajaan  Singasari dan Kerajaan Majapahit. Lalu ada Ken Dedes  yang menjadi dalang pada peralihan kekuasaan dari Tunggul Ametung ke Ken Arok. Mereka semua tentu saja perempuan terdidik, punya literasi tinggi dan punya kesempatan untuk mengubah dunia.

Lama kemudian, setelah tanah Jawa terjajah setidaknya 300 tahun, muncul Kartini dengan propagandanya untuk memaksa pemerintah Belanda agar membuat sekolah bagi perempuan. Mengapa sekolah perempuan karena para orangtua tak memberi ruang pada perempuan untuk sekolah bercampur dengan anak laki-laki. Tentu saja selain dana pendidikan yang sangat mahal sehingga prioritas hanya untuk anak laki-laki.

Delapan tahun setelah kematian Kartini, anak-anak ideologisnya membuat organisasi perempuan bernama Putri Mardika (1912). Namun 4 tahun sebelumnya, 3 adik perempuan Kartini membuat seruan untuk bersatunya para pemuda Jawa. Seruan ini tak banyak disambut, setidaknya tidak secara langsung mendaftar pada Roekmini, Kartinah dan Soematri, namun beberapa bulan kemudian Boedi Oetomo lahir. Dan mereka langsung bergabung dalam perjuangan tersebut, sebagai sangat sedikit dari anggota perempuan yang ada. 4 tahun kemudian, barulah Putri Mardika lahir di bawah naungan Boedi Oetomo. Setelah itu lahirlah organisasi-organisasi perempuan seperti Jong Java Meiskering, Wanita Oetomo, Wanito Muljo, serta Aisyiah (1917), yang rata-rata masih di bawah naungan organisasi laki-laki. 


Kuntilanak Wangi - merumahkan perempuan

Dari masa-masa kelahiran organisasi perempuan sampai akhir pemerintahan Soekarno, kita akan melihat masa keemasan bagi sejarah keberadaan perempuan. Perjuangan mereka mendapat dukungan kaum laki-laki yang memegang tonggak kemerdekaan dan kesetaraan. Namun kita akan melihat penurunan bahkan pemasungan organisasi perempuan pada masa presiden kedua. 

Untuk "menenangkan perempuan", organisasi radikal dihancurkan. Mereka disebut sebagai inspirasi revolusi, sebuah gerakan yang sangat dilarang karena kestabilan ekonomi sangat penting pada awal pemerintahannya. Pasti tahulah bagaimana gejolak ekonomi pada masa akhir pemerintahan Soekarno. Organisasi yang mendapat tempat istimewa di hati rakyat pada saat itu, PKI dan Gerwani, dihancurkan.

Sudah tentu saya takkan membandingkan PKI dan Gerwani di sini, namun saya juga perlu menegaskan bahwa meski hubungan Gerwani dan PKI dekat (pada tahun 1965), namun tak pernah masuk dalam struktural PKI. Gerwani adalah gerakan perempuan terbesar saat itu yang beraliansi dengan PKI pada saat terjadi peristiwa yang disebut Pemberontakan PKI.

Kalau menilik asal-usul Gerwani, kita akan melihatnya sebagai sebuah gerakan perempuan yang progresif. Beberapa tokohnya sudah menjadi pahlawan nasional karena peran mereka di masyarakat. 

Sejarah Gerwani dimulai dari lahirnya Gerwis (Gerakan Wanita Istri Sedar). Pada pada tanggal 4 Juni 1950, ada 6 organisasi perempuan, yaitu Rupindo (Rukun Putri Indonesia, Semarang), Persatuan Wanita Sedar (Surabaya), Istri Sedar (Bandung), Gerwindo (Gerakan Wanita Indonesia, Kediri), Wanita Madura (Madura), dan Perjuangan Putri Republik Indonesia (Pasuruan) sepakat bergabung menjadi Gerwis agar bisa membuat lebih banyak perubahan untuk kaum perempuan.



Sejak berdirinya, Gerwis aktif mendorong perubahan Undang-Undang Perkawinan yang dianggap tidak adil terhadap perempuan. Bersamaan dengan itu, Gerwis secara aktif memberi kursus-kursus penyadaran tentang hak-hak perempuan dalam perkawinan. Organisasi ini juga menuntut perlunya hak-hak perempuan, termasuk tentang poligami. 

Namun tak hanya terpaku pada isu perempuan, dengan nama baru,  yaitu Gerwani, organisasi yang sangat berpengaruh ini juga menjadi organisasi yang paling aktif dalam politik nasional juga isu internasional. Bagi pemerintahan Seoharto, gerakan mereka disebut radikal dan inspirasi revolusi. Harus segera dihancurkan. Bukan hanya dibubarkan namun juga dihancurkan sampai ke akar-akarnya. Mereka menjadi "kuntilanak wangi". Terlalu harum jasanya namun menjadi teror mengerikan jika menyebut namanya. 

Sebagai pelipur lara, Kowani (Kongres Wanita indonesia) ditunjuk oleh pemerintah Orde Baru untuk menjadi organisasi payung bagi semua kelompok wanita, dari organisasi profesional, sosial, keagamaan sampai organisasi-organisasi fungsional. Bersama dengan itu, disahkan juga Panca Dharma Wanita, yaitu: 

1) wanita sebagai pendamping setia suami, 

2) wanita sebagai pencetak generasi penerus bangsa, 

3) wanita sebagai pendidik dan pembimbing anak, 

4) wanita sebagai pengatur rumah tangga, 

5) wanita sebagai anggota masyarakat yang berguna.


Darma wanita masih ada sampai sekarang, dan menjadi ideologi yang bias. Budaya “ikut suami” melemahkan perjuangan perempuan melawan hegemoni atau kuasa laki-laki yang kadang (mungkin tanpa sadar) mendominasi dan mendomestifikasi perempuan. 

Mengapa demikian? Karena paham "ibuisme" berkembang pesat bersamaan dengan paham “bapakisme” merasuki perilaku aparat negara pada semua tingkat. Dengan konsep ibuisme, perempuan disadarkan akan perannya sebagai istri yang harus menemani suami ke mana pun. Dengan konsep bapakisme, semua hubungan struktural dan fungsional menjadi pola hubungan bapak dan anak buah.

ibuisme dan bapakisme


Renungan di Hari Ibu 2023 ala Susindra

Ahai, setelah berpanjang kata dan kalimat, akhirnya sampai juga di tujuan awal menulis ini. Sengaja saya taruh di akhir, semoga bisa mempengaruhi teman-teman dalam memandang Hari Ibu sebagai perjuangan memerdekakan perempuan yang takkan pernah berakhir.

Bisa dikatakan bahwa perjuangan perempuan memang tak pernah lepas dari sejarah politik sebuah negara. Jadi jika saat ini aman-aman saja, bukan berarti perjuangan itu telah usai. 

Saya pernah menulis tentang tema Hari Perempuan 2022 yang diperingati tiap tanggal 8 Maret. Tema tahun ini adalah #BreaktheBias. Jadi saya menulis tentang Mematahkan Bias Gender dari Rumah. Saya mengulas lengkap tentang gender dan seks sebagai bagian dari konstruksi budaya di masyarakat. Bukan hanya masyarakat Indonesia, tapi di seluruh dunia, masalah gender masih menjadi isu dan perjuangan perempuan di mana-mana.


Saya menggunakan istilah "sapu tak berkelamin" sebagai sebuah usulan untuk mematahkan bias gender dari rumah. Saya ikutkan dalam 2 antologi, yaitu buku "Kapan Kita Sampai" dan buku "Aku dan Masa Lalu". Bisa dikatakan ini adalah perjuangan yang muncul dari dalam rumah, karena
umumnya masih banyak ibu yang membedakan perlakuannya pada anak berdasarkan jenis kelaminnya. Anak laki-laki jorok sedikit tak apa tapi anak perempuan tidak boleh. Anak laki-laki tak perlu membantu membersihkan rumah dan anak perempuan harus bahkan wajib melakukannya. Sapu saya ambil sebagai maskot, mewakili pekerjaan rumah tangga lainnya.

Bisa dilihat dari sejak awal tercatatnya peran perempuan, sejak masa Ratu Sima sampai di masa serba canggih sekarang, bahwa Hari Ibu masih relevan untuk terus diperingati. Bukan berarti hanya setahun sekali mengenang, tapi seperti halnya kita menyiapkan resolusi tahun baru, kita perlu membuat resolusi perjuangan perempuan. Atau jika tidak membuatnya, setidaknya menambah resolusi tentang perempuan, gerakan perempuan, dan mengapa Hari Ibu masih harus diperingati setiap tahun.



Sumber bacaan:

  1. Buku karya Saskia berjudul Penghancuran Gerakan Perempuan Politik Seksual di Indonesia Pasca-Kejatuhan PKI
  2. https://www.jurnalperempuan.org/wacana-feminis/menilik-kembali-peran-organisasi-perempuan-di-masa-orde-baru
  3. https://news.detik.com/berita/d-2373384/-sejarah-gerwis-dan-munculnya-gerwani-
  4. https://www.bbc.com/indonesia/media-58731310

12 Komentar

  1. Lengkap sekali. Wanita juga punya hak untuk maju. Selamat hari ibu buat ibu hebat

    BalasHapus
  2. Pas banget ini dibaca di hari ibu, menyadarkan dan mengingatkan peran ibu selama ini. Apalagi kita juga sebagai ibu sekarang, anak perempuan pasti tahu jika tak selamanya bisa bersama sang ibu. Jadi, harus meluangkan waktu sepenuhnya selama masih bisa. Terima kasih renungannya!

    BalasHapus
  3. Hahahaha. Aku pun sebetulnya gak pernah merayakan Hari Ibu mba. Ini tiba-tiba pas tanggal 22 anak perempuanku kasih kartu ucapan buatan gambar tangannya sendiri. Seketika terharu.

    Aku baru ini membaca Panca Dharma Wanita. Ternyata bagus sekali visi misi Kowani dahulu ya mba.

    BalasHapus
  4. Inget Darma Wanita jadi inget zaman suami masih karyawan perusahaan sebelum di PHK. Aku engga pernah ikut Darma Wanita, karena kerja (dan males, alesan kerja jadi alesan aja supaya engga dateng pertemuan...haha). Akibatnya aku dinyinyirin sama Ibu-ibu yang aktif Darma Wanita.
    Engga cocoknya dengan Darma Wanita karena aku harus hormat sama istri atasan suami. Lah...apa hubungannya sama aku kaaan, kan bukan atasanku...Haha...

    BalasHapus
  5. Recommended buku yang pas dibaca saat hari ibu ini. Sepertinya aku cukup tertarik sama buku "Aku dan Masa Lalu". Nanti coba cari ah di toko buku deket sini. Makasih rekomendasinya mbak

    BalasHapus
  6. Kontribusi wanita sangat besar ya sejak dahulu kala. Masa depan juga sedikit banyak dipengaruhi oleh sosok Ibu di dalam keluarga. Very nice post 👍

    BalasHapus
  7. ibu adalah tiang negara, begitu juga dalam rumah tangga, jadi peran ibu cukup besar, oleh karenanya pendidikan untuk wanita sangat penting bukan untuk membuatnya menjadi sombong tetapi untuk menjadi bekalnya dalam mendidik anaknya
    salut dengan Kartini walaupun dengan keterbatasannya dia tetap berjuang agar wanita Indonesia mendapat pendidikan yang layak

    BalasHapus
  8. Dengan adanya panca dharma wanita. Posisi wanita jadi mulia, terlebih lagi penegasan yg dibawakan oleh Islam yg telah mengangkat derajat kaum wanita. Artikelnya luar biasa padat kak. Kaya akan pengetahuan.

    BalasHapus
  9. Fenomena "ikut suami" ini sampai sekarang juga masih sering saya lihat mbak, terutama untuk mutasi bagi ASN. Alasan ikut suami paling bisa di tolerir, padahal bisa juga kan alasan "ikut istri".

    Membaca ini saya jadi ingat ucapan salah satu pimpinan saya di instansi pusat, dia bilang kelak nggak akan ada lagi istilah "pemimpin perempuan" yang ada hanyalah istilah "pemimpin" karena jumlah pemimpin berjenis kelamin perempuan semakin banyak dan memiliki kemampuan setara dengan para pria

    BalasHapus
  10. di jaman modern yang notabene global dan open minded tapi tetep aja kesetaraan gender masih jadi permasalahan. kalau saya bilang ada peran agama disini bisa jadi, tapi yang salah bukan agamanya melainkan pemahaman agama yang hanya diserap bagian terluar tidak mengulik lebih dalam. rekomended banget kaum adam dan hawa yang belum paham konsep keseteraan dan kesalingan untuk membaca bukunya Kyain Faqih "Mubadalah".

    BalasHapus
  11. Suka sekali dengan tulisan ini. Mewakili isi pikiraku selama ini tentang peran perempuan, istri dan ibu sekaligus menjadi diri sendiri yang punya hak untuk berkarya, untuk maju dan berprestasi.

    Selamat hari Ibu untuk semua ibu hebat dimana saja berada

    BalasHapus
  12. Masyalloh

    Mbak susi, perempuan emang hebat yaa dengan segala problematika hidupnya wanita tetep bisa kuat dan berprestasi

    Semoga aku bisa segera dipanggil "ibu" juga hihi amin

    BalasHapus

Terima kasih sudah berkenan meninggalkan jejak di sini. Mohon tidak memasang iklan atau link hidup di sini. :)