Ragam Hias Masjid Mantingan: Gambaran Kehidupan Abad XV-XVII

Masyarakat Jepara memiliki sebuah masjid bersejarah yang diresmikan pada tahun 1559 masehi. Masjid ini sangat menarik karena memiliki puluhan ragam hias yang menggambarkan akulturasi budaya Jawa asli, Cina, India, dan Arab. Saya menyebut Masjid Mantingan ini sebagai Museum Ukir Nusantara Abad ke-16. Apakah saya mengada-ada? Insya Allah tidak.

Masjid Mantingan memiliki tetenger waktu dalam bentuk sengkalan memet yang berbunyi Rupa Brahmana Warna Sari. Untuk Sobat Susindra masih awam dengan istilah sejarah, saya bantu sedikit pengertiannya. 

Sengkalan adalah candrasengkala atau simbolisasi angka tahun, yang bisa juga merujuk ke karakter tahun tersebut. Istilah ini berasal dari dua kata Jawa kuno yaitu candra yang berarti 'pernyataan' dan sengkala yang berarti 'angka tahun'. Cara membacanya dari belakang. Memet artinya tulisan stilasi huruf hijaiyah. Saya gunakan sengkalan tahun yang ada dalam mighrab Masjid Mantingan, ya:
  1. Rupa adalah simbol angka 1
  2. Brahmana adalah simbol angka 8
  3. Warna adalah simbol angka 4
  4. Sari adalah simbol angka 1

Jadi, Rupa brahmana warna sari artinya 1481 Saka. Kok? Nggak 1559? 
Saka itu tahun Jawa. Saat itu kan masyarakat Jawa menggunakan tahun Jawa. Jelas, ya.

Lha kok angka satu diwakili kata rupa dan sari? 
Iya, sebuah sengkala atau kata memiliki banyak nama. Misalnya:
  • Angka 0 dinyatakan dengan kata: akasa (angkasa/langit), brastha (rusak, lenyap, hancur), gegana (angkasa/langit), swarga (surga/kahyangan), atau luhur. Masih banyak lagi kata lainnya ya.
  • Angka satu bisa dinyatakan dengan kata: bumi, candra (bulan), tunggal, ika, eka, manunggal, negara, hyang (angkasa, bersinar), kartika (bintang), surya (matahari), atau yang lainnya
  • Angka dua: dwi, nayaka (air muka), sungu (tanduk binatang), kembar, atau kata lainnya.

Masih banyaaaak..... daripada Sobat Susindra pusing dan lupa kenapa ke sini, yaitu untuk mengenal masjid tertua di kota Jepara.... 

Baca juga: 


Bagian depan masjid. Aslinya berbentuk candi bentar. Atap adalah tambahan (yang cukup mengganggu)

Masjid Mantingan yang kita kenal sekarang ini adalah hasil pemugaran akbar tahun 1977-1981. Pemugaran yang menyisakan sedikit sisa ciri masjid abad ke-16. Setelah itu masih diadakan renovasi kecil-kecil. Saya dengar kabar angin bahwa status Masjid Mantingan sebagai heritage terancam hilang jika terus direnovasi. 

Tapi kan ada ragam hias masa Ratu Kalinyamat yang masih ada? Begitu, mungkin alasan yang dikemukakan. 
Untuk diketahui, panel relief atau ragam hias yang ada di Masjid Mantingan sudah lama ada di banyak museum di Jawa maupun luar negeri.  Di museum Belanda ada cukup banyak jumlahnya. Saya punya gambarnya tapi akan keluar di buku saya tentang “Seni Ukir Japara”. Buku ini masih harus diundur launching-nya. Jujur, saya dan tim masih butuh memantapkan tulisan tentang langgam ukir. Kami butuh kerjasama beberapa sejarawan yang berminat pada ornamen dan ragam hias. Jadi sebelum keluar harus ada masukan dari beliau-beliau ini. 

Masjid Mantingan, dokpri tahun 2017
Sobat Susindra pastilah sudah sudah tahu sejarah Masjid Mantingan. Akan tetapi bagi Sobat Susindra yang tidak berasal dari Jepara, saya beritahu, bahwa masjid Mantingan ini adalah masjid buatan Ratu Kalinyamat. Beberapa sejarawan menyatakannya sebagai masjid tanda cinta untuk Pangeran Kalinyamat atau Sutan Hadiri. Mengenai siapa beliau-beliau ini, akan saya ceritakan di posting lainnya. Cerita tentang siapa arsitek Masjid Mantingan juga butuh ruang cerita sendiri, termasuk juga bentuk bangunan, kebudayaan yang mempengaruhi, sampai mengapa dibangun di sini serta cerita di sekitar Desa Mantingan. Bisa jadi satu buku 30.000 kata sendiri jika ditambah tentang makam kuno di sebelahnya. Hahahaha.... 

Psst... semalam saya membuat tulisan apakah benar masjid ini dulunya candi, baru tertulis separuh, keburu mengantuk dan tertidur saat menyusui Bayi Gi yang sedang sakit. Saya kelelahan karena kemarin Gi butuh lebih banyak di pangkuan, gendongan, dan menyusu. Hari ini masih... tapi karena tulisan ringan dan datanya banyak yang sudah saya hapal ya lebih mudah menulisnya. Target 1 jam menulis plus memasukkan gambar (sejam ini akumulasi karena sebentar-sebentar Gi minta dipangku) molor. Tidak jelas berapa lama. Nyaris setengah har karena Gi tidak mau tidur dan hanya mau diajak papa atau masnya paling lama 10 menit. Sisanya menempel terus. Saya lebih sering menulis dengan satu tangan (kanan/kiri)



Kembali ke ragam hias Masjid Mantingan, ya.

Relief atau ragam hias Masjid Mantingan menggambarkan kehidupan masa lampau.  Bentuknya panel-panel aneka bentuk (lingkaran, segi empat, persegi, roset, dan huruf W) yang diukir dengan indah para seniman pada masa Ratu Kalinyamat. Ada yang menyebutnya relief, sehingga mungkin saya menyebut ragam hias dan reief secara bergantian. Oh ya, seniman pembuatnya bernama Sungging Badarduwung. Ini nama pena, sih, karena jika diartikan dengan bahasa Indonesia artinya ahli ukir batu.

Saya akan menerjemahkan satu panel berukir yang menggambarkan kehidupan masa lalu, terkhusus masa abad XV-XVII.

Contohnya gambar panel berukir ini:

Salah satu ragam di masjid mantingan

Ragam hias bentuk rosette ini menggambarkan sebuah makam raja (atau dewa?) di sebuah gunung yang dikelilingi tanaman lokal dan pagar. Sebuah pintu berbentuk candi bentar berada di tengah bawah. 

Saya bukan arkeolog yang hapal stilasi tanaman (pepohonan dan bunga), jadi saya tak berani mengurai tanaman apa saja di sana. Yang jelas di mata saya adalah: 
  • Pohon jenis pandanus yang biasa dipakai sebagai tikar, berlatar belakang  gunung (pertama)
  • Sebuah pohon besar yang saya tidak tahu jenisnya berlatar belakang gunung (ketiga). Mungkin pohon bunga kamboja karena bertema makam.
  • Bunga teratai yang menyimbolkan keagungan di bagian agak bawah, di kiri dan kanan.
  • Makam berlatar belakang sebuah gunung (tengah/kedua)
  • Awan gemawan di bawah bangunan, ‘membelah' panel berukir menjadi dua, bagian atas dan bawah. 

Menurut buku arkeolog yang saya baca, itu adalah sebuah makam. Ada juga yang menyebut rumah pendopo. Kalau dilihat benar, saya lebih yakin itu sebuah makam. Apalagi ada awan gemawan yang 'membelah' di tengah. Mungkin menggambarkan dua dunia, dunia saat raja masih manusia dan dunia kayangan setelah meninggal. Mungkin juga menggambarkan keagungan raja sebagai titisan 'dewa'. Mungkin bagian dunia manusia (raja) yang harus berusaha/bekerja yang terbaik untuk kejayaan bangsanya dan ketika meninggal akan memasuki alam surga. Akan tetapi Sobat Susindra harus tahu bahwa sebagian penerjemahan ini adalah hasil olah rasa saya yang tak pernah belajar ilmu menerjemahkan gambar artefak peninggalan sejarah, ya....

lebih mirip makam, kan?

Keberadaan gunung, pepohonan, bunga, tanaman, bentuk bangunan, menunjukkan dengan jelas kehidupan masa itu. Ada banyak pohon yang dipahat di panel batu putih yang bisa Sobat Susindra lihat sampai sekarang, misalnya pohon bungur, pohon bligo, pohon bambu, pohon sagu, pohon kelapa, pohon pinang, dll. Jenis bunga yang ada juga tidak hanya teratai, lho. Ada bunga pacar banyu, bunga sungsang (kumis macan?), bunga bakung, dan lainnya. Masih banyak dan saya tak sanggup mengurainya. 

Pada tahun 1930 Dr. Steinman pernah menulisnya dalam buku Enkele Opmerkingen betreffende de plant-ornamenten van Mantingan (Beberapa catatan tentang ornamen-ornamen tumbuhan di Mantingan). Dalam buku tersebut Steinman menegaskan bahwa beberapa tanaman dalam ragam hias memiliki arti penting bagi kehidupan masyarakat saat itu, terkait dengan sandang, pangan dan papan, juga obat-obatan serta peribadatan. Tanaman-tanaman yang dipahat berada di sekitar masyarakat saat itu. 

Weits... ini baru satu panel berukir... padahal masih tersisa beberapa puluh panel ukir yang menarik diteliti ragam hiasnya.

Sebagai pancingan.... coba lihat panel berukir ini:



Apakah Sobat Susindra bisa menebak burung apa ini? Atau malah tidak melihat mana burungnya?
Ini salah satu bukti betapa mumpuninya seniman Japara saat itu. 

Di bawah ini adalah contoh ragam hias di Masjid Mantingan yang berbentuk geometri arabesk. 



Kiranya cukup sekian usaha saya mengurai makna panel berukir dan beberapa jenis ragam hias di Masjid Mantingan. Oh ya, semua foto adalah dokumentasi pribadi yang saya ambil pada tanggal 6 Februari 2017. Yuk! Siapa mau ke Masjid Mantingan?

0 Komentar